Selasa, 28 Februari 2012

selasa, 28 februari
2 jam hari ini lanjut baca mathematical modelling

apa itu kecerdasan?


PENJELASAN TENTANG KECERDASAN
Kecerdasan ialah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. Kecerdasan dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa IQ merupakan usia mental yang dimiliki manusia berdasarkan perbandingan usia kronologis.
Terdapat beberapa cara untuk mendefinisikan kecerdasan. Dalam beberapa kasus, kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan, atau kebijaksanaan. Namun, beberapa psikolog tak memasukkan hal-hal tadi dalam kerangka definisi kecerdasan. Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir, namun belum terdapat definisi yang memuaskan mengenai kecerdasan[1]. Stenberg& Slater (1982) mendefinisikannya sebagai tindakan atau pemikiran yang bertujuan dan adaptif[2].
Kecerdasan dapat dibagi dua yaitu kecerdasan umum biasa disebut sebagai faktor-g maupun kecerdasan spesifik. Akan tetapi pada dasarnya kecerdasan dapat dipilah-pilah. Berikut ini pembagian spesifikasi kecerdasan menurut L.L. Thurstone:
Skala Wechsler yang umum dipergunakan untuk mendapatkan taraf kecerdasan membagi kecerdasan menjadi dua kelompok besar yaitu kemampuan kecerdasan verbal (VIQ) dan kemampuan kecerdasan tampilan (PIQ)
Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kecerdasan, yaitu:
  • Faktor Bawaan atau Biologis
Dimana faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam memecahkan masalah, antara lain ditentukan oleh faktor bawaan.
  • Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas
Dimana minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu.
  • Faktor Pembentukan atau Lingkungan
Dimana pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan inteligensi.
  • Faktor Kematangan
Dimana tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan.
  • Faktor Kebebasan
Hal ini berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Di samping kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya.[3]

Stephen Jay Gould adalah salah satu tokoh yang mengkritik teori kecerdasan. Dalam bukunya The Mismeasure of Man (Kesalahan Ukur Manusia), ia mengemukakan bahwa kecerdasan sebenarnya tak bisa diukur, dan juga mempertanyakan sudut pandang hereditarian atas kecerdasan.
Menurut Dr. Thomas Amstrong, setiap anak dilahirkan dengan membawa potensi yang memungkinkan mereka untuk menjadi cerdas. Sifat yang menjadi bawaan itu antara lain : keingintahuan, daya eksplorasi terhadap lingkungan, spontanitas, dan fleksibilitas.
Kecerdasan merupakan potensi yang dimiliki seseorang yang bersifat dinamis, tumbuh dan berkembang. Kecerdasan dapat berarti kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu menyelesaikan masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain. Kecerdasan secara umum dipahami pada dua tingkat yakni : Kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang sedang dihadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Jadi dapat dipahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi individu untuk mencapai sasaran-sasaran secara efektif dan efisien. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan;
  1. Pengalaman
Pengalaman merupakan ruang belajar yang dapat mendorong pertumbuhan potensi seseorang. Penelitian menunjukkan bahwa potensi otak tumbuh dan berkembang sejalan dengan pengalaman hidup yang dilaluinya. Sejak lahir hingga masa kanak-kanak yang memperoleh pengasuhan yang baik dari ibunya akan tumbuh lebih cepat dan lebih sukses dibanding anak yang kurang mendapat perhatian cenderung menimbulkan rasa rendah diri dan frustasi. Bila hal ini berjalan secara berulang-ulang akan menentukan besaran potensi kecerdasan yang dimilikinya.
  1. Lingkungan
Lingkungan atau konteks akan banyak membentuk kepribadian termasuk potensi kecerdasan seseorang. Lingkungan yang memberikan stimulus dan tantangan diikuti upaya pemberdayaan serta dukungan akan memperkuat mental dan kecerdasan.
  1. Kemauan dan Keputusan
Kemauan yang kuat dalam diri seseorang membantu meningkatkan daya nalar dan kemampuan memecahkan masalah. Kemauan dan keputusan sering dijelaskan dalam teori motivasi. Dorongan positif akan timbul dalam diri seseorang sejalan dengan lingkungan yang kondusif, sebaliknya jika lingkungan kurang menantang sulit untuk membangun kesadaran untuk berkreasi. Otak yang paling cerdas sekalipun akan sulit mengembangkan potensi intelektualnya.
  1. Bawaan
Meskipun banyak argumentasi para ahli tentang besaran pengaruh genetika atau faktor keturunan dalam perkembangan kecerdasan seseorang, tetapi semua sepakat bahwa genetika sedikit banyak berpengaruh. Hasil riset dibidang neuroscience menunjukkan bahwa faktor genetika berpengaruh terhadap respon kognitif seperti kewaspadaan, memori, dan sensori. Artinya seseorang akan berpikir dan bertindak dengan menggunakan ketiga aspek itu secara simultan.
  1. Aktivitas Belajar dan Kegiatan Harian
Aktivitas dan kebiasaan manusia merupakan pengalaman yang sangat berharga dan bermakna bagi kesuksesan seseorang. Menggali kebiasaan hidup sehari-hari sangat membantu dalam memetakan pengalaman belajar yang dipadukan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam masyarakat. Implikasi dari model belajar terpadu melalui aktivitas dan pengalaman nyata pada intinya menyerukan perubahan fundamental dalam praktek bersekolah-di-rumah yang bersifat padagogis dengan rangkaian pengembangan kemampuan majemuk melalui kebiasaaan dan pengalaman yang berlangsung sepanjang hayat. Dalam konteks pembelajaran di rumah, aktivitas merupakan pengalaman itu sendiri yang dibangun berdasarkan nilai-nilai, kebiasaan, tindakan, kerjasama dan keputusan yang dirangkaikan melalui pola hubungan positif dengan keluarga dan lingkungan di sekitarnya. Pelatihan bukan upaya menerampilan suatu kemampuan tertentu kepada sebagian kelompok masyarakat, tetapi membangun kemampuan belajar berinteraksi dan merencanakan perubahan kedepan.

Pada tahun 1983, Howard Gardner mengkritisi kecerdasan yang mendasarkan kepada bahasa dan logis-matematis saja, melalui bukunya Frame of Mind, tentang Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk). Kecerdasan kata Gardner, merupakan kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. Kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita, dan bukan tergantung pada nila IQ, gelar perguruan tinggi atau reputasi bergengsi.

Kita bisa mencontohkan apakah Einstein akan sukses seperti itu bila dia masuk di Jurusan Biologi atau belajar main bola dan Musik…jelas masalah fisika-teoritis Einstein, Max Planc, Stephen Howking, Newton adalah jenius-jenius, tetapi bab olah-raga maka Zidane, Jordane, Maradona adalah jenius-jenius dilapangan, juga Mozart, Bach adalah jenius-jenius dimusik. Dst..dst…juga Thoman A. Edison adalah jenius lain, demikian juga dengan para sutradara film, bagaimana mereka mampu membayangkan harus disyuting bagian ini, kemudian setelah itu, adegan ini, ini yang mesti keluar dengan pakaian jenis ini, latar suara ini, dan bahkan dialog seperti itu, ini adalah jenius-jenius bentuk lain. Disinilah Howard Gardner mengeluarkan teori baru dalam buku Frame of Mind, tentang Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk), dimana dia mengatakan bahwa era baru sudah merubah dari Test IQ yang melulu hanya test tulis (dimana didominasi oleh kemampuan Matematika dan Bahasa), menjadi Multiple Intelligences.

Intellegence (Kecerdasan) katanya adalah kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi nyata (Gardner; 1983;1993).
Text Box:  Multiple intelegencies = Kecerdasan Ganda meliputi;
  1. Intelegensi Linguistik
  2. Intelegensi matematis-Logis
  3. Intelegensi Ruang-Spasial
  4. Intelegensi Kinestetik-badani
  5. Intelegensi Musik
  6. Intelegensi Interpersonal
  7. Intelegensi Intrapersonal
  8. Intelegensi lingkungan/Naturalis (Perkembangan selanjutnya dari 7)
  9. Intelegensi eksistensial (Perkembangan lebih lanjut dari 8)

Awal dalam bukunya, hanya 7 kecerdasan, tetapi dikemudian hari dan sampai sekarang berkembang menjadi 8, 9 bahkan terakhir katanya 10 kecerdasan. Kekurangan atau problem, tapi juga mungkin kelebihan, dari teori kecerdasan ganda adalah, kecerdasan ini bisa berkembang terus, sebab tergantung syarat yang bisa dipenuhinya. Gardner (dalam Frame of Mind: The Theory of multiple Intelligences; 1985) menyatakan; “kecerdasan kandidat” dalam modelnya “lebih menyerupai pertimbangan artistic ketimbang penaksiran ilmiah” (hal 63). Dengan demikian, kecerdasan tambahan sebanyak apapun bisa dimasukkan kedalam model Gardner, karena menurutnya: “Tidak ada, dan tidak akan pernah ada, daftar kecerdasan manusia yang tidak terbantahkan dan diterima secara universal….kita bisa lebih mendekati tujuan itu jika kita berpegang hanya pada satu tingkat analisis (misalnya neurofisiologis)….” (hal 60). (Barbara K. Given, “Brain-Based Teaching”, hal 75).
Gardner menetapkan syarat khusus yang harus dipenuhi oleh setiap kecerdasan agar dapat dimasukkan dalam teorinya; Empat diantaranya adalah;
1.      Setiap kecerdasan dapat dilambangkan à misal matematika jelas ada lambang, Musik ada lambing (not dll), kinestetik ada lambing atau irama gerak dst, lambaian tangan, untuk selamat tinggal atau mau tidur dll.
2.      Setiap Kecerdasan mempunyai riwayat perkembangan à artinya tidak seperti IQ yang meyakini bahwa kecerdasan itu mutlak tetap dan sudah ditetapkan saat kelahiran atau tidak berubah, MI (Multiple Intelligences) percaya bahwa kecerdasan itu muncul pada titik tertentu dimasa kanak-kanan, mempunyai periode yang berpotensi untuk berkembang selama rentang hidup, dan berisikan pola unik yang secara berlahan atau cepat semakin merosot seiring dengan menuanya seseorang. Kecerdasan paling awal muncul adalah Musik lalu Logis-Matematis.
3.      Setiap Kecerdasan rawan terhadap cacat akibat
kerusakan atau cedera pada wilayah otak
tertentu. Misal orang dengan kerusakan
pada Lobus Frontal pada belahan otak kiri, tidak
mampu berbicara atau menulis dengan mudah,
namun tanpa kesulitan dapat menyanyi,
melukis dan menari. Orang yang lobus Temporalnya kanan yang rusak, mungkin mengalami kesulitan dibidang music tetapi dengan mudah mampu bicara, membaca dan menulis. Pasien dengan kerusakan pada Lobus oksipital belahan otak kanan mengkin mengalami kesulitan dalam mengenali wajah, membayangkan atau mengamati detail visual. (Thomas Amstrong, 1999, hal 8).
Kecerdasan linguistic ada pada belahan otak kiri, sementara music, spatial dan antarpribadi cenderung di belahan otak kanan. Kinestetik-jasmani menyangkut kortek motor, ganglia basal, dan serebellum (otak kecil). Lobus frontal mengambil peran penting pada kecerdasan intrapribadi (intrapersonal).
4.      Setiap kecerdasan mempunyai keadaan akhir berdasar nilai budaya. à Artinya tidak harus matematis-logis yang penting atau Spatial atau Musik atau…atau tergantung budaya masing-masing missal ada kemampun naik kuda, melacak jejak dll dalam budaya tertentu itu sangat-sangat penting dst.

Text Box:


Inilah empat syarat yang diberikan oleh Howard Gardner, makanya teorinya berkembang dari 7 Kecerdasan (Linguistik, Logis-Matematis, Musik, Spatial-Visual, Kenestetik, Intrerpersonal dan intrapersonal) Menjadi 9 (tambahan 2 yaitu; Naturalis dan terbaru Eksistensialis).
Adalah menarik sebagai contoh; bagaimana anda menghafal nomor telpon? Apakah anda mengulang-ngulang nomor tadi sebelum menelpon (ini berarti anda menggunakan teknik Liguistik) atau anda menbayangkan pola tombol yang harus anda tekan dalam pola peletakan tombol angka-angka (menggunakan metode Spatial-Visual) atau malah anda mengingat-ingat nada khas tiap-tiap angka (strategi Musikal).

Teori  kecerdasan  majemuk  atau  MI  memiliki  landasan  pengkategorian.  Hal  ini
dimaksudkan    agar  kedelapan  jenis  kecerdasan  tersebut  berkembang  sepenuhnya,  bukan  sekedar  bawaan,  kemampuan  atau  bakat.  Kriteria  yang  digunakan  Gardner  adalah  sebagai
berikut.
(1) Letak dalam Otak
Gadner  mengamati  bahwa  orang-orang  yang  pernah  mengalami  kecelakaan  atau penyakit tertentu mempengaruhi wilayah otak tertentu pula.  Cedera ini mengganggu  kecerdasan  tertentu,  tetapi  sama  sekali  tidak  mempengaruhi  kecerdasan  yang  lain.  Orang  yang  mengalami  cidera  di  wilayah  Broca  (lobus  kiri  depan),  misalnya,  akan  mengalamai  kesulitan  memproduksi  ujaran,  tetapi  masih  dapat  mengerjakan  soal  matematika,  menari,  mengekspresikan  perasaan,  dan  menjalin  hubungan  dengan  orang  lain.    Berikut  ini  merupakan  sistem  neurologis  dalam  otak  yang  merupakan wilayah primer tiap jenis kecerdasan
(2) Adanya Bukti Personalitas
Gardner memberi contoh profil pada orang-orang tertentu yang sangat menonjol pada satu jenis kecerdasan tertentu, tetapi rendah dalam kecerdasan lain atau savant (seperti Raymond dalam film Rain Man)
(3) Tiap Kecerdasan Memiliki Waktu Kemunculan dan Perkembangan
Kecerdasan terbentuk melalui keterlibatan yang bernilai budaya dan seseorang (dalam kegiatan itu) mengikuti pola perkembangan tertentu. Musik berkembang lebih awal dan bertahan lama (sampai tua), kecerdasan visual dalam wujud melukis dapat muncul pada usia dewasa (seperti kasus nenek moses).
(4) Sejarah Evolusioner dan Kenyataan Logis Evolusioner
Tiap jenis kecerdasan memiliki bukti hidtoris, seperti spasial dapat ditemukan pada
gambar-gua Lascaux, irama terbang serangga waktu mencari bunga, musikal melalui
instrumen musik purba, dan sebagainya.
(5) Dukungan Temuan Psikometrik
Dapat memanfaatkan tes standar untuk menilai kecerdasan dengan cara yang
terkontekstualisasikan (memanfaatkan skala kecerdasan Wechsler untuk linguistik,
matematis logis, spasial, kinsetetik; dll)
(6) Dukungan Penelitian Psikologi Eksperimental
(7) Tiap Kecerdasan memiliki Rangkaian Cara kerja Dasar
Setiap kecerdasan membutuhkan cara kerja tertentu dan dapat berfungsi
menggerakkan kegiatan yang khas pada setiap kecerdasan. Kinestetik misalnya,
bercara dasar kerja : mampu menirukan gerakan fisik, mampu menguasai gerak rutin
motorik halus dalam menyusun bangunan.
(8) Kemudahan Menyandikannya ke dalam Sistem Simbol
Setiap kecerdasan punya simbol sendiri-sendiri.

Sumber
  1. Tadkiroatun Musfiroh, Pusdi Paud, Lemlit Uny, “Multiple Intelligences Dan Implikasinya Dalam Pendidikan”
2.      Amstrong, Thomas. 2002. Setiap Anak Cerdas: Panduan Membantu Anak Belajar Dengan Memanfaatkan Multiple Intelligence-Nya. Jakarta : Pt. Gramedia Pustaka.
3.      C.  Asri Budiningsih. 2005. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta : Pt. Rineka Citra.
  1. Muhammad Alwi,  Direktur Full Day and Boarding School SMP/SMA YAPI, serta Dosen STIE-YADIKA Bangil-Pasuruan. “Multiple Intelligences Kecerdasan Menurut Howard Gardner &
  2. Implementasinya (Strategi Pengajaran Dikelas)
  3. Encarta Reference Librari premium (2005)Redmond, WA:Microsoft Encarta
  4. Bjorklund, D. F.(2000) Children's Thinking : Developmental function and Individual differences. 3rd ed. Belmont, Ca : Wadsworth
  5. http://www.psikologizone.com/faktor-yang-mempengaruh-intelegensi/06511548